31 October, 2009

Kenapa Retak? (1)

retak01

Kenapa tembok di rumah bisa retak? Banyak penyebab-nya. Di sini saya akan membicarakan berbagai jenis keretakan yang sering terjadi di bangunan rumah. Bila keretakan yang terjadi demikian parah-nya, anda ‘sangat perlu’ untuk khawatir. Kita tidak berbicara tentang keretakan bangunan rumah akibat bencana gempa. Kita berbicara tentang keretakan yang sering terjadi ketika rumah kita baru saja selesai dibangun, atau telah beberapa tahun kita tempati, tanpa adanya kejadian luar biasa (gempa, bom, dll).

Keretakan pertama, retak rambut. Ini adalah retak-retak halus yang biasa kita temui setelah beberapa hari tembok selesai di-aci dan di-cat. Tidak mengkhawatirkan memang, tapi cukup mengganggu. Apalagi bila kita termasuk orang yang ‘bawel’ terhadap sedikit kekurangan. Umumnya hal ini disebabkan oleh kualitas acian yang buruk, bukan karena susunan batu batanya atau kondisi plasteran (satu lapis di bawah acian). Mungkin campuran acian-nya terlalu encer, sehingga lapisan acian mudah pecah atau retak. Solusinya adalah dengan sedikit mengupas atau meng-ketrik bagian retakan rambut, lalu menambalnya dengan campuran semen acian yang agak sedikit kental. Atau kalau harga tidak menjadi masalah, kita bisa menggunakan acian semen mortar. Harga semen mortar cukup jauh di atas harga semen biasa.

Keretakan kedua, retak yang lebih panjang dan lebar dari retak rambut. Kemungkinan sebab ini lebih bervariasi dari retak jenis pertama. Kemungkinan pertama adalah sambungan batu bata yang buruk. Biasanya ini terjadi di area-area pertemuan dinding dengan tiang/ kolom. Atau antara sambungan dinding lama dengan dinding baru. Juga di bagian dinding yang berada di sekitar pintu atau jendela. Untuk daerah-daerah tersebut, pada saat pemasangan batu bata, kita membutuhkan elemen sederhana berupa besi beton yang dipotong seukuran 20 centi-an, yang ditaruh di daerah speci antar sambungan dinding/ kolom. Elemen itu lazim dikenal dengan nama angkur. Untuk kusen pintu dan jendela, angkur tersebut sudah ‘mestinya’ ditanam/ dipake di sisi-sisi yang menempel ke tembok. Elemen yang cukup sederhana yang sering di-lalaikan dan di-remehkan oleh para tukang. Kewajiban seorang supervisor-lah untuk selalu cerewet ‘mengingatkan’ mereka. Kemungkinan yang lain, masih di sekitar area pintu dan jendela (karena di area-area inilah sering kita temui keretakan) adalah tidak diberikannya perlakuan khusus di bagian atas kusen pintu dan jendela. Atau untuk pintu dan jendela dengan lebar yang besar, perlakuan khusus di bagian kanan dan kirinya. Di atas kusen pintu atau jendela, ‘mestinya’ cukup dengan menyusun batu bata bukan secara horizontal tetapi vertical. Perlakuan ini sering dikenal dengan istilah ‘bata rolaag’. Bukan dengan tanpa maksud. Susunan bata secara vertical (hanya di bagian atas kusen pintu/ jendela) adalah untuk menahan beban vertikal susunan batu bata di atas pintu/ jendela. Susunan vertikal secara mekanis lebih kaku di banding susunan horizontal, yang mempunyai kecenderungan mudah patah. Apalagi pintu dan jendela mempunyai rutinitas aktifitas buka-tutup sehingga sering menimbulkan getaran dan ‘momen’ yang membuat gaya tekan dari area dinding di atasnya semakin besar.

Sementara pintu dengan ukuran lebar yang cukup besar, dibutuhkan tak hanya susunan bata rolaag, tapi juga adanya ‘kolom praktis’ di sebelah kanan dan kirinya. Hal ini agar ‘pegangan’ atau ikatan pintu dengan dinding akan semakin kuat dan tidak terpengaruh dengan aktifitas ‘buka-tutup’ yang sering.

Kemungkinan yang terakhir adalah kualitas plesteran dinding yang buruk. Dikarenakan prosentase campuran pasir yang berlebihan, dengan alas an penghematan atau manipulasi spek.

Keretakan ketiga, retak struktur! Ini adalah jenis keretakan yang mengerikan. Keretakan dengan lebar yang besar (bahkan menganga), dan memanjang dari bagian atas (balok) sampai ke bagian dasar lantai (sloof pondasi).

(bersambung)
*yuk, gabung di milis ini:
http://groups.yahoo.com/group/muhipro *

26 October, 2009

tawaran saya: milis

Saya pastikan sudah sepuluh bulan lamanya, blog ini vakuum. Banyak hal telah membuatnya demikian. Saya akan mengemukakan banyak alasan bila membeberkan-nya satu persatu. Blog ini akan tetap lanjut. Ditandai dengan postingan tulisan ini.

Saya minta maaf kepada semua yang telah memberikan atensi pada blog ini berupa tanggapan dan pertanyaan. Saya tidak memberikan feed-back yang baik. Di radio Ras FM, dimana saya sempat diberikan kesempatan untuk sharing pengetahuan dan pengalaman dalam bidang bangunan, mestinya itu menjadi pemacu saya buat menulis di sini, sebagai bahan siaran. Tapi ternyata tidak. Sekarang siaran tersebut di-non-aktif-kan untuk sementara waktu. Karena alasan ke-tidak-enak-an dari kedua belah pihak. Saya mungkin tidak sanggup bertahan dengan aktifitas proyek yang kadang padat, sementara siaran hanya menjadi prioritas kesekian karena bersifat sukarela. Sementara dari pihak radio mungkin segan untuk menekan saya (karena alasan sukarela tadi), dan belum mendapatkan sponsor yang mau ‘membiayai’ siaran tersebut.

Terima kasih Ras FM atas waktu-waktu siaran itu. Saya tentu tidak akan melupakannya. Saya tentu akan ingat siaran pertama yang membuat saya nervous, dan tergagap ketika berbicara di depan microphone. Tapi beberapa kali siaran telah membuat saya nyaman ‘cuap-cuap di udara’. Saya seperti sedang mengobrol, tanpa perlu lagi melihat contekan bahan siaran. Bagi anda yang pernah mengikuti-nya di radio, mungkin tahu itu.

Kabar buruk dari vakuum-nya blog ini bagi saya adalah masalah page-rank. Dari ranking 2/10 yang telah saya peroleh sebelumnya, kini saya harus menghadapi kenyataan bahwa ia telah melorot begitu drastis menjadi 0/10, alias ‘tak dianggap sama sekali’. Mungkin Google yang mempunyai otoritas atas page-rank memprioritaskan masalah update. Masalah web yang senantiasa diperbaharui, kalau bisa beberapa kali dalam sehari, seperti layak-nya situs berita. Maaf Google, blog ini bukan situs berita. Blog ini hanya sebuah situs berbagi dari seseorang yang dengan susah payah meluangkan waktunya untuk menulis.

Baiklah tadi di awal telah saya pastikan blog ini akan tetap lanjut. Saya akan menulis lagi, tentang bangunan, tentang arsitektur, melanjutkan seri tulisan saya yang terdahulu, saya akan melakukan semuanya lagi. Dan saya juga akan berinteraksi dengan anda. Tawaran saya yang baru ini adalah milis, sebagai media interaksi. Memang terdengar narsis: milis dari seorang pribadi. Tapi milis ini sama sekali bukan tentang saya. Milis ini tentang hal-hal yang (mungkin) kita minati bersama: arsitektur, interior, buku, web, dll.

Bila anda tidak keberatan, anda bisa gabung di milis itu. Alamatnya di http://groups.yahoo.com/group/muhipro

19 December, 2008

Masjid: Rumah Tuhan atau Pusat Pembangunan Masyarakat?

(kontribusi: Nangkula Utaberta, ST., M.Arch)

Dewasa ini banyak pembangunan masjid dengan ukuran yang besar, berskala monumental dengan ornamentasi dan hiasan-hiasan yang mahal serta bergaya Timur Tengah. Ide dan perancangan seperti ini biasanya berakar dari pemahaman sang arsitek terhadap ide masjid sebagai rumah Tuhan. Ide masjid sebagai rumah Tuhan berusaha memposisikan masjid sebagai tempat beribadah, berkontemplasi dan tempat bertemunya seorang hamba dengan Tuhannya. Artikel ini akan berusaha menjelaskan apa sebenarnya konsep rumah Tuhan dan bagaimana implikasinya terhadap perancangan sebuah masjid disamping berusaha memberikan tentang fungsi dan peranan dari masjid pada masyarakat Muslim di jaman Nabi Muhammad SAW.

Ide Rumah Tuhan dalam Perancangan sebuah Masjid
“Pertimbangkanlah apa yang dimaksud dengan Masjid, kuil atau gereja. Ia adalah tempat dimana kita mencoba meningkatkan spiritual kita dan berjumpa Tuhan. Ia adalah tempat dimana ia tinggal, tempat dimana kita pergi mencari petunjuk dan berkomunikasi dengan-Nya. Ia adalah tempat dimana kita merasa tenang, damai dan nyaman karena kehadirannya. Ia juga tempat kita mengasingkan diri.”
Jimmy Lim, “Editorial comments”, Majalah Akitek, Vol. 2 no. 6, Nov-Dec.1990

Potongan artikel diatas menggambarkan bagaimana pendapat seorang arsitek terhadap sebuah tempat ibadah sebagai rumah Tuhan. Konsep ini sebenarnya merupakan konsep yang sudah sangat tua karena peninggalannya dapat kita lihat pada berbagai peradaban di dunia. Dari mulai Patung besar Zeus produk peradaban Yunani hingga berbagai Piramid raksasa produk kebudayaan Mesir.

Secara sederhana konsep ini meletakkan tempat ibadah sebagai tempat dimana Tuhan bersemayam. Karena Tuhan bersemayam dalam suatu rumah ibadat maka ia membawa sebuah implikasi langsung yang sangat besar. Tuhan tentu Maha Besar maka bangunan untuknya tentu saja harus “besar” Tuhan tentu Maha Indah maka bangunan untuknya tentu harus “cantik dan indah” Tuhan tentu Maha Kaya maka bangunan untuknya haruslah “semahal mungkin” Maka jangan heran jika kita menemukan berbagai bangunan ibadat yang dibina di luar ukuran bangunan biasanya (sangat besar), dibuat dengan sebagus-bagusnya dengan bahan yang semahal mungkin sebagai suatu bentuk pengabdian dari seorang hamba kepada Tuhannya. Pola dan metode pemikiran ini masih terjadi hingga saat ini bahkan seolah menjadi sebuah standar dalam pembuatan sebuah rumah ibadat, Ia harus besar, indah dan mahal.

Dalam Islam, Rumah Tuhan merupakan penterjemahan langsung dari kata Baitullah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Penggunaannya sendiri biasanya disematkan kepada masjid sebagai bangunan ibadah utama orang Islam. Sehingga segala konsepsi dan persepsi arsitek terhadap rumah Tuhan sebagaimana telah dibahas sebelumnya banyak diterapkan pada masjid.

masjid
Padahal jika kita mau mengkaji secara logika saja, “Jika Tuhan Maha Besar lalu untuk apa kita menghasilkan sesuatu yang sebesar-besarnya, karena jika kita menghasilkan bangunan yang sebesar mungkin pun Tuhan tetap akan Maha Besar dan apa yang kita lakukan tetap kecil dalam pandangan-Nya!” Demikian halnya dengan membuat seindah dan semahal mungkin, ia tetap tidak akan menambah atau mengurangi keindahan dan kekayaan-Nya, sebagaimana beberapa ayat berikut:

“ Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri dan apabila datang hukuman bagi kejahatan yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu…” ( QS Al-Isra’: 7).

“Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu. Ingatlah kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka diantara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang yang membutuhkan-Nya; dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti kamu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).” (QS Muhammad:37-38).

Dari sini jelaslah bahwa konsep rumah ibadat sebagai rumah Tuhan tidak memiliki sebuah dasar yang cukup untuk diterima dan dipakai pada perancangan masjid dalam masyarakat Islam.

Masjid Sebagai Pusat Pembangunan Masyarakat

Sebelum kita berbicara tentang konsep dan fungsi dari Masjid mungkin ada baiknya kita membahas arti dan makna sholat sebagai kegiatan utama yang dilaksanakan di masjid dengan melihat beberapa hadith berikut:

“Hudaifah meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda: Saya telah diciptakan berbeda dengan umat sebelumnya dalam tiga perkara: shaf-shaf kami telah dijadikan seperti shaf para malaikat dan seluruh dunia merupakan masjid untuk kami, dan debunya telah dijadikan penyuci jika air tidak tersedia. Dan dia menyebutkan karakter yang lain juga.” (Shahih Muslim).

Anas bin Malik meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: Sholatlah ketika telah masuk waktunya, ia kemudian Sholat di kandang biri-biri dan kambing. Ia kemudian memerintahkan untuk membangun Masjid diatasnya…” (Shahih Muslim).

Jika Sholat berjama’ah dapat dilakukan dimana saja selama memenuhi syarat sebagai tempat sholat lalu untuk apa ada bangunan yang namanya Masjid? Syarat dari suatu tempat yang layak untuk sholat pun sangat mudah dan sederhana yaitu bukan pemakaman dan bersih dari najis atau kotoran. Bahkan pada beberapa kasus sebagaimana terlihat pada hadith di bawah ini Rasulullah justru menggalakkan orang untuk sholat di rumah.

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa ia mengajak orang untuk sholat pada malam yang dingin, berangin dan hujan, dan ia kemudian mengamati setelah azannya sambil berkata sholatlah di rumah kalian, ketika malam itu dingin dan hujan dalam sebuah perjalanan dengan Rasulullah SAW beliau meminta Muadzin untuk meminta orang untuk sembahyang di rumah tinggal mereka.” (Shahih Muslim).

“Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa ia berkata pada muadzin pada saat hari hujan : ketika kau sampai pada bagian kalimat Syahadat (bagian kalimat Adzan) jangan mengatakan “marilah kita Shalat,” namun katakanlah “sholatlah di rumahmu.” Si periwayat kemudian menceritakan bahwa orang-orang ketika itu banyak yang tidak setuju. Ibnu Abbas kemudian mengatakan: apakah kamu mengingkarinya? Ia (Rasulullah), yang lebih baik dari saya, melakukannya. Sholat Jum’at tetap harus dilakukan, namun saya tidak suka memaksamu untuk keluar dan berjalan pada jalan yang berlumpur dan licin.”(Shahih Muslim).

Ternyata ketika kita mempelajari sejarah kita mendapati sebuah kenyataan bahwa Masjid pada zaman Rasulullah memiliki banyak sekali fungsi-fungsi lain selain hanya sekedar tempat ibadah. Pada zaman Rasulullah ia juga merupakan pusat pemerintahan, pusat proses legislasi, pusat interaksi masyarakat dan berbagai fungsi duniawi lainnya, sebagaimana terlihat pada hadith berikut ini:

Diriwayatkan oleh Annas r.a: Beberapa barang datang kepada Rasulullah dari Bahrain. Rasulullah memerintahkan kepada parasahabat untuk membagikannya di dalam masjid-itu merupakan jumlah terbesar yang pernah diterima Rasulullah SAW. Ia meninggalkannya untuk sholat tanpa menengoknya sama sekali. Setelah beliau selesai sholat. Beliau duduk di hadapan barang-barang tersebut dan membagikannya kepada siapa saja yang ia lihat. Al Abbas datang kepada beliau dan berkata,”Wahai Rasul Allah berikan padaku sebagian barang-barang itu, karena saya perlu memiliki bekal untuk saya dan Aqil. Rasulullah SAW lalu meminta ia untukmengambilnya sendiri… (Sahih Al Bukhari).

Diriwayatkan oleh Aisyah r.a: Demi Allah saya ingat Rasulullah berdiri di depan pintu kamar saya sambil menyelimuti saya dengan mantel sehingga memungkinkan saya untuk melihat orang-orang Abbasiyah bermain dengan pisaunya di dalam masjid Rasulullah. Ia (Rasulullah) tetap berdiri untuk menemani saya hingga saya bosan dan pergi…(Shahih Muslim).

Sebuah utusan dari kaum Kristian Najran datang kepada Rasulullah. Seramai 60 pengendara kuda, 40 di antaranya berasal dari kaum bangsawan dari tiga kaum yang berkuasa….Mohammad bin Ja’far menceritakan kepada saya bahwa ketika mereka datang ke Madinah mereka datang ke masjid nabi ketika beliau sedang melaksanakan solat tengah hari….Para sahabat yang melihat mereka pada hari itu tidak pernah melihat mereka seperti utusan yang datang sebelumnya dan setelahnya. Masa untuk beribadah mereka telah datang mereka berdiri dan beribadah dalam masjid nabi, dan mereka dibiarkan untuk berbuat demikian. Mereka beribadah menghadap ke Timur.” (Sirah Ibn Ishaq, hal. 641 and 270).

Kenyataan sejarah ini memberikan sebuah visi dan pemahaman yang integral kepada kita akan peranan Masjid dalam Masyarakat Islam. Bentuk fisik Masjid Rasulullah pun sangat sederhana dengan penekanan pada aspek fungsional dan penggunaan ruang yang multi-fungsional sebagaimana terlihat pada sketsa dan rekonstruksi berikut:
mailgooglecom

Bukan berarti kita harus membangun masjid kita sesederhana dan sebagaimana bentuk dari masjid Rasulullah diatas namun semangat yang terkandung di dalamnya sebagai produk dari peradaban yang terbaik dalam Islam tentu tidak dapat kita abaikan begitu saja. Dari visi dan pemahaman masjid sebagai pusat pembangunan masyarakat ini tentu saja akan memiliki implikasi yang berbeda pula terhadap perancangan sebuah Masjid. Kita sampai pada sebuah kesimpulan sederhana bahwa perbedaan cara pandang suatu masyarakat terhadap ritual dan kegiatan yang terjadi dalam Masjid secara meyakinkan memiliki pengaruh besar terhadap perancangan dan bentuk fisik dari Masjid yang dihasilkan.

Masjid Kita saat ini…

Artikel ini tidak bermaksud melarang apalagi mencela pembangunan masjid yang besar, indah ataupun mahal. Namun artikel ini mengajak kita untuk sama-sama mengevaluasi alasan di balik pembangunan besar dan mahal tersebut. Apakah dengan dana yang sedemikian besar masjid tersebut dapat lebih berfungsi, ataukah justru terjadi pemborosan dan pemubaziran dari uang yang digunakan.

Masjid bukan hanya bangunan fisik saja, namun ia seharusnya menjadi sebuah institusi pembangunan masyarakat yang tidak hanya berkutat dalam aspek ibadah ritual saja. Masjid sebaiknya dirancang agar dapat memfasilitasi berbagai kegiatan dan fasilitas seperti sekolah, perpustakaan, warung, toko kelontong dsb agar masyarakat dapat lebih merasa memiliki institusi ini dan ikut memakmurkannya. Hal ini dilakukan dengan memisahkan antara ruang sholat dengan ruang publiknya. Selain aspek fisik bangunannya, pembangunan masjid perlu dilakukan juga terhadap sumber daya manusia yang mengelola masjid tersebut. Pelatihan manajemen, motivasi dan keimanan perlu diberikan kepada mereka agar dapat bekerja dengan lebih baik, efisien dan efektif.

9 December, 2008

Sistem Simulasi Perancangan Rumah (Home Version 2.0)

Apa yang akan kita lakukan bila kita menginginkan sebuah bentuk rumah yang menjadi bentuk idaman kita?
Mungkin kita akan:

  • membeli banyak buku atau majalah yang berisi bentuk-bentuk rumah yang menjadi acuan bentuk rumah kita nantinya. Kalau kita punya kemampuan mendesain, kita akan desain sendiri rumah itu, dan merealisasikannya dalam bentuk gambar. Kalau tidak, kita akan menggunakan jasa seorang desainer untuk merealisasikan desain bentuk rumah yang dimaksud.
  • menghayal dan berimajinasi seideal yang kita mampu, terus men-convertnya menjadi sebuah bentuk gambaran rumah. Lalu sama dengan kemungkinan pertama; mendesainnya sendiri atau menyerahkan realisasi desain bentuk pada seorang desainer.
  • kemungkinan yang terakhir, (ini kalo kita punya banyak duit) memanggil arsitek terkenal yang mewakili gaya rumah yang menjadi idaman/ khayalan kita, lalu menceritakan segala uneg-uneg obsesi desain rumah kita pada arsitek itu, dan memberikan waktu beberapa lama untuk arsitek itu menyelesaikan proses dan hasil desain dari rumah idaman kita itu.

Sebenarnya ada beberapa kemungkinan lagi, tapi akan tidak jauh beda dengan tiga kemungkinan di atas. Mungkin untuk menghemat biaya, kita akan menggunakan jasa seorang arsitek yang sama sekali tidak terkenal, tapi mempunyai potensi kemampuan desain yang bagus dan menarik, atau seorang mahasiswa jurusan arsitektur yang punya kemampuan desain yang bagus juga.

dulux
Sekarang bagaimana bila semua proses itu dilakukan secara digital? Kita masih berurusan dengan ide dan khayalan kita, tapi tidak berurusan lagi dengan proses desain atau berurusan dengan seorang arsitek, baik ia terkenal atau tidak. Kita berurusan dengan sebuah program, sebuah sistem digital. Dimana program dan sistem digital itu akan bekerja berdasarkan input data dari kita. Inputan yang kita masukkan misal mengenai berapa luas m2 lahan yang ada, lalu berapa persen dari lahan itu yang akan dibangun; satu lantai atau dua lantai?; berapa jumlah kamar tidur?; berapa jumlah toilet?; style bangunan mengacu kemana, minimalis, tropis, mediterania, atau art deco? Setelah inputan selesai kita isi, dalam waktu yang tidak cukup lama gambaran rumah hasil input data kita tadi muncul! Lengkap dari denah, gambar tampak depan dan samping, kemudian perspektif 3 dimensinya. Bila kita memilih opsi lebih lanjut, ada inputan lain yang harus kita isi seperti finishing bahan bangunan apa yang ingin kita pakai, apakah menggunakan finishing bahan bangunan yang high class, medium class atau economy class? Bisa juga diperdetil dari perbagian elemen bangunan, mulai dari merk cat, jenis kusen, jenis penutup atap, merk dan ukuran keramik lantai, merk sanitair, dan lain sebagainya. Lalu dalam waktu yang tidak cukup lama, muncullah draft perkiraan biaya yang harus kita siapkan untuk membangun rumah.

Impossible? Nothing impossible, pak!
Mungkin dalam bentuk yang paling sederhana, sistem simulasi yang berkaitan dengan rumah bisa kita tengok di web mycolour.com.au milik produsen cat terkenal ini. Di web itu, kita disuguhi fasilitas simulasi warna cat dari semua ruangan yang ada di  dalam rumah. Dan kita harus percaya, teknologi akan terus berkembang di waktu-waktu yang akan datang dengan temuan-temuan yang tidak terpikirkan oleh otak kita hari ini.
(bersambung)