Sewaktu membahas arsitektur Islam, kita pasti tidak bisa lepas dari membahas bangunan masjid. Dari arsitektur mesjidlah, pembahasan mengenai arsitektur Islam dimulai dan bermuara. Sebelumnya, kita sering mengidentikkan bangunan masjid dengan ciri khas kubah di bagian atasnya. Padahal bentuk kubah, begitu ditelusuri dalam sejarah arsitektur, berasal dari Romawi. Bukan dari wilayah dimana Islam berasal dan berkembang. Bahkan, bangunan ka’bah yang menjadi kiblat umat Islam, dan menjadi titik pusat kota Mekkah, diperintahkan Allah kepada Nabi Ibrahiim, tanpa mensyaratkan bentuk apapun. Nabi Ibrahimpun membangunnya dengan interpretasi bentuk yang sederhana, kotak persegi.
Sekarang memang bentuk masjid berkembang dengan ragam bentuk yang bervariasi, tidak melulu mengandalkan bentuk kubah beserta lengkungannya yang khas. Masjid Salman ITB dengan bentuk kotak dan perseginya. Kemudian Masjid al-Markaz Makassar dengan bentuk atap khas Indonesia, segitiga, dengan hiasan geometris yang cukup beragam. Yang perlu dicatat, secara eksplisit dalam ajaran Islam tidak pernah mensyaratkan bentuk tertentu untuk diterapkan dalam bangunan fisik ummatnya. Islam hanya mensyaratkan dan memberi batasan mengenai prinsip-prinsip umum yang bersifat maknawi, seperti kesucian, kebersihan, dan keindahan. Bagaimana suatu bangunan itu menggambarkan kesucian, mewujudkan kebersihan, dan terlihat indah bagi yang melihatnya, kita diberikan kebebasan interpretasi dan aplikasi dalam penerapan di lapangan. (Tapi ada satu prinsip yang terasa kontradiktif dalam penerapannya di lapangan, yang akan di bahas nanti di akhir).
Sehubungan dengan bangunan masjid bergaya Timur Tengah yang sering dikait-kaitkan sebagai bangunan bergaya arsitektur Islam yang sesungguhnya, saya kurang setuju. Seperti halnya mengidentikkan Islam dengan Timur Tengah atau Arab. Islam memang lahir dan berkembang di Arab, tapi bukan berarti segala sesuatu yang berasal dan berbau Arab sudah pasti mewakili Islam. Bahkan Islam hadir di Arab, dengan salah satu agendanya adalah merevisi budaya-budaya menyimpang yang berkembang di wilayah Arab. Budaya itu dikenal dengan budaya jahiliah. Budaya Arab yang bersifat lokalis, hanya cocok untuk masyarakat Arab atau Timur Tengah. Ia tidak bisa dipaksakan untuk diterapkan di wilayah lain di luar wilayah Arab, dengan mengatasnamakan Islam. Arsitektur adalah bagian dari budaya yang dipunyai oleh masing-masing masyarakat yang mempunyai ciri khasnya sendiri, sesuai dengan kekhasan wilayahnya. Kita tentu tahu, Indonesia mempunyai banyak ragam rumah tradisional yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, dikarenakan wilayah Indonesia yang cukup luas dengan ratusan suku yang hidup di dalamnya, dan mempunyai budaya masing-masing yang khas.
Dengan begitu, masjid yang dibangun di Arab ‘mestinya’ akan berbeda dengan masjid yang dibangun di Indonesia. Menyamakan semua bentuk masjid yang tersebar di seluruh wilayah dunia dengan bentuk masjid yang dibangun di Arab, bahkan mematenkan bentuknya, adalah sebuah bentuk pelanggaran budaya. Untuk mewujudkan arsitektur Islam, atau arsitektur bernuansa dan bernafaskan Islam, kita hanya harus mematuhi prinsip-prinsip umum yang digariskan di dalamnya. Apa prinsip-prinsip umum itu? Semuanya tertuang dalam al-Quran, landasan pokok ajaran Islam, ditunjang oleh sunnah-sunnah Nabi yang terangkum dalam hadits Rasulullah.
Prinsip-prinsip umum ajaran Islam mengenai sholat mesti diterapkan dalam bangunan masjid. Karena sesuai dengan namanya, masjid adalah tempat umat Islam bersujud, sholat mengahadap Allah Swt. Yang pertama mengenai qiblat, arah hadap sholat. Bangunan masjid mesti menyesuaikan dengan arah Qiblat. Kalau tidak bangunannya, ya susunan interior di dalamnya. Ada kalanya suatu bangunan yang sudah ada, yang sebelumnya berfungsi sebagai bangunan umum, dirubah fungsinya sebagai masjid, seperti contohnya masjid Cut Meutia, Jakarta. Dikarenakan arah bangunannya tidak sesuai dengan arah qiblat, maka interior bagian dalamnyalah yang menyesuaikan. Begitu masuk ke ruangan masjid, kita akan melihat deretan shof yang miring, yang sudutnya berbeda dengan persegi ruangan. Idealnya yang mengikuti arah qiblat adalah arah bangunannya, karena bila yang menyesuaikan arah qiblat adalah ruangan interiornya, maka daya tampung jamaah sholat tidak akan maksimal dikarenakan banyak ruangan shof yang terbuang (hasil sudut yang berbeda antara garis shof dengan persegi ruangan).
Yang kedua mengenai baris shof. Aturan mengenai baris shof ini akan menghasilkan modul baris shof. Dimensi baris shof adalah dimensi yang didapatkan dari kegiatan sholat, utamanya adalah ketika orang bersujud, yaitu sekitar 120 cm, dengan ukuran lebar orang sholat adalah 50-60 cm. Sebelum membangun masjid, mesti ditetapkan terlebih dahulu, berapa orang jamaah sholat yang akan ditampung, disesuaikan dengan luas lahan yang ada. Misal, ditetapkan jumlah jamaah yang akan ditampung sebanyak 400 orang, maka dari modul ukuran orang sholat akan didapatkan dimensi ruangan masjid 12 kali 20 meter, yang terdiri dari 10 baris shof. Tiap baris shof terdiri dari 20 orang jamaah. Ini baru hitungan kasar. Dalam pelaksanaannya, harus diperhitungkan pula tiang bangunan masjid yang berada di dalam ruangan masjid, yang jumlahnya akan mengurangi daya tampung jamaah. Lebar tiang utama umumnya berkisar antara 30 sampai 40 cm. Satu tiang akan mengurangi jumlah satu orang jamaah sholat. Idealnya, ruangan sholat bersih dari adanya tiang-tiang struktur, sehingga jumlah jamaah sholat bisa maksimal, dan tidak ada bagian yang satu jamaah terpisah dengan jamaah lain dengan adanya tiang. Teknologi struktur mutakhir memungkinkan suatu bangunan dengan bentangan luas dapat terbangun, tanpa adanya tiang-tiang struktur di tengah-tengahnya. Seperti struktur baja bentang lebar (pre stressed), maupun struktur space frame. Bangunan masjid masa kini, bisa memanfaatkan teknologi tersebut.
(bersambung)




14 Comments
10 December, 2007 at 2:46 pm
Wah kelihatannya sampeyan menguasai teknik bangunan ya? Apa memang sekolahnya di jurusan tersebut?
Salam kenal
10 December, 2007 at 3:03 pm
yupp pak riyo, aku kuliah di jurusan arsitektur. kerja di dunia bangunan, sambil menyempatkan diri belajar PHP karena hobby.
salam kenal juga pak riyo, tq atas komennya..
25 February, 2008 at 4:35 pm
Assalamualaikum…
Mas Muhipro, kebetulan skr saya sedang Tugas Akhir di Arsitektur Universitas Sriwijaya Palembang. Tugas Akhir saya berkaitan dengan arsitektur Islam yakni membangun Universitas Islam OKI. Jika Mas muhipro berkenan membantu saya mengenai arsitektur Islam lebih jauh, saya akan sangat senang sekali…
Wassalamualaikum…
25 February, 2008 at 4:38 pm
Ini alamat email saya :
Pink_23385@yahoo.com
Thanks before…
27 February, 2008 at 2:06 pm
assalamualaikum…
artikel yamg menarik pak!! salut.. trus ada g artikel tentang aplikasi arsitektur islam bwt rumah tinggal?? Nuhun…
12 March, 2008 at 3:29 pm
ass…
tulisannya menarik mas,kebetulan saat ini saya sedang dalam proses melaksanakan Tugas Akhir. saya kuliah di jurusan Desain Interior,ISI Jogja. judul yang saya ambil ga jauh dari gaya arsitektur islam yang diterapkan pada interior istana maimun di medan. kira-kira mas bisa bantu saya untuk mengenal lebih jauh tentang arsitektur islam ? terima kasih sebelumnya…wasallamm…^_^
26 March, 2008 at 11:07 pm
kami mengundang anda untuk berdiskusi tentang design, arsitektur dan islam di blog http://www.archirevo.com
9 April, 2008 at 12:34 pm
pak aya sedang ada tugas bangunan bentang lebar min 100m…
tetepi saya kesulitan menemukan arsitek yang membangunnya….apakah bapak mempunyai data yang cukup real???????????hatur nuhun
22 June, 2008 at 2:34 pm
As-Salam ‘alaikum…
sebelumnya saya mengucapkan salam kenal buat pak muhiro. al-hamd lillah anda telah membuka menuliskan artikel yang bermanfaat dalam mambuka cakrawala tentang arsitektur islam. saat ini saya sedang menulis buku mengenai konsep dan bentuk rumah tinggal untuk keluarga muslim. tentunya berdasarkan syari’at islam. insya Allah akan terbit bulan agustus mendatang. untuk itu, bila anda memiliki referensi maupun dalil yang kuat tentang arsitektur (berikut deskripsinya berupa gambar, denah) akan sangat membantu dakwah lewat buku yang akan saya terbitkan ini. terima kasih.
waassalam ‘alaikum…
2 August, 2008 at 7:02 pm
Assalamu alaikum Wr. Wb oom Iwan..
Klo boleh, ingin sedikit membagi ilmu, yang semoga benar.. hehehe. Semua yang ditulis di atas, wah bagus banget.. Pengen nambahin dikit, sekedar untuk bahan diskusi. =)
Sewaktu masi kuliah di bandung dulu, pernah membahas dengan rekan2, tentang filosofi bangunan arsitektur Islam.
Salah satunya adalah bentuk simetri yang didapat dari bentuk kotak dan/atau kubah (iya, saya juga dapat tau bahwa bentuk kubah itu mulai diadaptasi pada saat Islam mulai masuk ke daerah Kekuasaan Romawi) yang digunakan.
Itu seperti menterjemahkan nafas keseimbangan hidup dalam filosofi agama Islam itu sendiri.. keseimbangan antara kanan dan kiri, pria dan wanita (dgn porsi masing2), bumi dan langit, serta dunia dan akhirat.
Yang kedua, arah kiblat sering digunakan dalam konsep bangunan Islam. Menurut diskusi waktu itu, arah kiblat ini lebih kepada penerapan filosofi bangunan yang disesuaikan dengan aktivitas harian ummat Islam, yaitu shalat 5 waktu.. dan sekaligus dapat diterjemahkan bahwa ummat Islam hidup berdampingan secara searah, satu tujuan, Lillahi Ta’Ala..
Hm, saya ga berani nambahin lagi deh.. karena ilmunya belum dalam2 amat. Hehehe.
Semoga benar info yang saya bagi ini, dan semoga bermafaat.
Amin ya robbal ‘alamiin…
Wassalamu alaikum Wr. Wb.
13 September, 2008 at 12:36 pm
kalo saya liat dari artikel yang ada,bentukan yang dihasilkan dari arsitektur islam bermacam-macam salah satunya adalah polychromy tsb. jdai sebenernya aristektur isalm itu yang seperti apa ya??..
mohon bantuannya pak,karena saya sedang belajar arsitektur islam untuk saya implementasikan kedalam landscape mesjid sebagai bahan tugas akhir saya.terimakasih sebelumnya.
22 November, 2008 at 9:10 am
artikel yang sangat menarik, pada beberapa artikel, paper dan buku yang saya tulis, pada prinsipnya saya sependapat dgn saudara, mungkin kita bisa menyambung diskusi kita lebih jauh.
Anda bisa menghubungi saya di
Nangkula Utaberta
Deputy Dean
School of Architecture & Design (SOAD)
Legenda Education Group
Bandar Universiti Teknologi Legenda (BUTL), Mantin 71700
E-Mail: nangkula_arch@yahoo.com please cc to nangkula@legendagroup.edu.my
23 November, 2008 at 4:51 am
wah, saya berterima kasih banyak atas undangan diskusinya pak Nangkula. Saya sudah mengirimkan email ke sampeyan..
28 April, 2009 at 9:14 am
Assalamualaikum…
sangat menarik artikel di atas. Mengenai teori-teori tentang arsitektur islam sangat dikuasai.
Tapi coba deh, saya pingin tahu prakteknya. maksudnya selayaknya disertai hasil karya sdr muhipro berupa hasil desain ( bentuk bangunan beserta denahnya). saya pingin tahu teori yang dipaparkan akan seperti apa jika dipraktekkan. terimakasih….
Wassalamualaikum….