Tanggapan
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada yang telah memberikan tanggapan mengenai topik ini. Seperti yang saya sampaikan pada tulisan seri pertama, isi dari tulisan saya mengenai Arsitektur Islam adalah ‘menurut hemat saya’, atau semata-mata interpretasi pribadi saya, didasarkan pada sedikit pengetahuan yang saya dapat, dan sedikit pemahaman saya ketika saya dalam sehari-hari bergelut dalam dunia Arsitektur.
Yang cukup mendapatkan tanggapan mengenai Arsitektur Islam, khususnya ketika membahas Arsitektur Masjid adalah unsur kemewahan dalam Arsitektur Masjid. Di tulisan sebelumnya, saya menukil pendapat Ulama-Sejarawan Said Ramadhan al-Buthy yang memprihatinkan kondisi kaum Muslimin saat ini yang lebih mementingkan aspek keindahan fisik, dan berlomba-lomba menghias masjid dengan kemewahan-kemewahan dunia. Dasar keprihatinan seorang Said Ramadhan tentu ada dasarnya. Beliau menekankan aspek ruhiyah yang mulai tergusur setelah banyak kaum muslimin terjebak dalam obsesi untuk mengejar kemewahan dunia. Sehingga beliau melihat, sangat sedikit sekali masjid yang mampu membawa kaum muslimin kepada suasana khidmat, dengan suasana ruhiyah yang kental. Adapun apa yang sekarang kita lihat di Masjidil Haram, Mekah, itu belum tentu menggambarkan sebuah kompleks masjid yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kita tahu, Kerajaan Saudi Arabia adalah suatu dinasti yang dibangun dengan bergelimang kemewahan dan kemegahan dunia, dan bukan merupakan kelanjutan kekhilafan sebagaimana digariskan oleh sunnah Rasul.
Yang saya tekankan di sini adalah ‘kemewahan dan bermegah-megahan’. Ini sama sekali tidak bisa di samakan begitu saja dengan ‘keindahan’. Sesuatu yang indah tidak harus mewah atau megah. Dan bila Pak Pangaraudy berpendapat bahwa bermegah-megahan perlu untuk syiar Islam, saya malah berpendapat ini jadi kontradiktif. Syiar Islam dengan bermegah-megahan? Padahal ajaran Islam (al-Quran) mengatakan ‘bermegah-megahan telah melalaikan kamu..’ Lalu dengan bermegah-megahan itu kita coba mensyiarkan Islam?
Allah Maha Indah, dan menyukai keindahan. Tapi di dalam firman-Nya, Allah sering mengecam sikap bermewah-mewahan, dan bermegah-megahan. Jadi keindahan yang Allah kehendaki, bukan keindahan yang dihasilkan oleh sesuatu yang bermegah-megahan, atau bermewah-mewahan. Sesuatu yang indah, bisa dihasilkan dari sesuatu yang sederhana. Unsur-unsur lain yang mendukung keindahan adalah keunikan, kekreatifitasan dan keserasian (terutama dengan alam).
Tapi, bagaimanapun seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Bahwa tulisan saya mengenai Arsitektur Islam adalah semata-mata interpretasi saya. Bukan merupakan interpretasi yang ‘sudah pasti benar’. Dan juga, masalah interpretasi bagaimana seharusnya Arsitektur Islam itu, adalah masalah yang sangat terbuka untuk didiskusikan, diinterpretasikan, untuk kemudian menghasilkan sebuah kesimpulan awal.
Saya cukup gembira dengan tanggapan-tanggapan yang ada. Insya Allah tulisan ini akan saya lanjutkan terus. Sekali lagi terima kasih atas tanggapan-tanggapannya.
(bersambung)




3 Comments
25 July, 2008 at 7:26 pm
Menurut saya Arsitektur Islam adalah arsitektur yang dibangun dengan tujuan mencari ridho Allah, menambah ketaqwaan, wujud rasa syukur dan bermanfaat bagi umat.
Bila membangun dengan megah merupakan perwujudan dari rasa syukur saya setuju, tetapi bila hanya menimbulkan rasa sombong…..
22 November, 2008 at 9:35 am
saya tidak menemukan artikel ini yang no 2 & 4 kemana ya artikel tersebut?
Nangkula
7 February, 2009 at 11:05 am
setuju! jadi ga usah bertengkar masalah arsitektur ini…