7 November, 2008...8:29 pm

Kecil-kecil Cabe Rawit

Jump to Comments

Kita tidak sedang membicarakan tentang sambal, lalapan, atau sejenisnya. Ini tentang binatang yang bodinya kecil mungil tapi bila sudah beraksi bisa merepotkan dan bikin berabe. Ya persis seperti pepatah yang jadi tulisan ini: kecil-kecil cabe rawit!

Binatang itu terdiri susunan 5 kata: r-a-y-a-p. Karena bodinya yang kecil mungil bahkan nyaris gak keliatan, doi sering kita remehkan. Padahal setidaknya ada dua perusahaan dari luar negeri yang beroperasi di Indonesia yang khusus membasmi binatang yang satu ini. Mengapa binatang ini tidak boleh diremehkan dan mesti dibasmi sampai ke anak cucunya? Kalo kita melihat hasil perbuatan binatang rayap, dan apa dampak yang ditimbulkannya, kita bakal mafhum. Kusen di rumah yang terbuat dari kayu solid kamper samarinda luluh lantak gara-gara gigitannya. Belum lagi rangka plafon yang habis digerogotinya, sehingga membuat plafon rumah nyaris ambruk. Dan itu, lemari buku yang beberapa bulan lalu baru jadi, papan bagian belakangnya sudah habis jadi makanannya.

rayap
Agar rayap tidak mampir ke rumah kita, ada taktik dan strategi yang mesti diterapkan. Teknik dan strategi ini paling ampuh diterapkan sewaktu kita membangun rumah, dimana segala sesuatunya bisa kita persiapkan dari awal dan sejak dini. Satu hal yang menjadi catatan penting tentang binatang rayap adalah obsesi dan makanan utamanya adalah kayu! Ibarat seorang penggila materi dunia, ia akan terobsesi untuk memburu makanan utamanya itu. Maka, strategi pertama yang kita terapkan adalah menjauhkan unsur-unsur kayu dalam rumah dan lingkungan kita. Potongan-potongan kayu bekas bekisting, atau pekerjaan kayu lainnya yang tercecer pada waktu proses pembangunan rumah, jangan dibiarkan begitu saja. Kalo bisa dibersihkan sampai sebersih-bersihnya.

Pembersihan lahan dari unsur-unsur kayu bisa disebut sebagai tindakan preventif terhadap rayap. Tindakan preventif berikutnya dilakukan pada waktu pekerjaan galian pondasi. Lubang galian untuk struktur pondasi disiram dengan cairan anti rayap. Dosisnya umumnya sekitar 2 liter per-m2. Ini karena rayap biasanya naik ke atas bangunan lewat dinding yang berdiri di atas garis pondasi. Tindakan ini dikenal dengan istilah ’sprying’. Setelah pekerjaan pondasi selesai, urugan tanah di dalam area pondasi juga disiram dengan cairan anti rayap. Dan terakhir, area lahan di sekeliling pondasi bagian luar juga disiram dengan cairan anti rayap.
Lalu bagaimana dengan elemen rumah yang memang terbuat dari unsur Kayu (seperti kusen, pintu jendela, dan rangka kuda-kuda atap)?
Elemen rumah dari kayu itu kita lapisi atau lumuri dengan cairan pengawet kayu, atau kita kenal dengan cairan anti rayap. Idealnya, bahan-bahan kayu tadi ketika masih berupa batangan (belum dibentuk jadi kusen, pintu, dan sebagainya) direndam selama beberapa jam dengan cairan anti rayap. Bila sudah terlanjur terbentuk, elemen bangunan dari bahan kayu tadi disemprot cairan anti rayap dengan alat semprot.

Sampai di sini, tindakan preventif terhadap serangan rayap sudah selesai. Dengan tindakan preventif tadi, rumah akan aman dari serangan rayap selama kurang lebih empat sampai lima tahun lamanya. Setelah jangka waktu itu habis, perlu dilakukan upaya maintenance anti rayap dengan sprying (penyiraman) kembali area di sekeliling bangunan.

Akan halnya dengan bangunan atau rumah yang sudah terlanjur terkena serangan rayap, karena tidak diantisipasi pada saat pembangunannya, maka yang dilakukan adalah upaya-upaya penanggulangan (kuratif). Setidaknya ada tiga tindakan yang umum dilakukan untuk memperbaiki rumah atau bangunan yang sudah terlanjur terkena serangan rayap, baik masih dalam skala ringan atau skala berat. Tiga tindakan kuratif itu adalah sprying, injection, dan biting.

Sprying dalam tindakan kuratif hampir sama dengan sprying dalam tindakan preventif. Hanya saja sprying dalam tindakan kuratif hanya bisa dilakukan pada unsur-unsur kayu dari elemen bangunan yang belum difinishing, dan tanah sekitar area bangunan yang tidak di-floor.
Jenis tindakan yang sering dilakukan dalam tindakan kuratif adalah injection (atau penyuntikan cairan anti rayap ke bagian bangunan yang menjadi tempat menjalarnya koloni rayap). Untuk tindakan injection standar adalah dengan membuat lubang dengan jarak 30 sampai 40 centi sepanjang lantai di kedua sisi garis dinding dengan menggunakan mata bor hingga mencapai level urugan tanah di bawah bahan penutup lantai (keramik, floor semen, dll). Sama seperti sprying yang dilakukan di garis galian pondasi, injection di sepanjang garis dinding ini bertujuan untuk memutus dan menghambat jalur koloni rayap, yang biasanya memang masuk ke dalam rumah atau bangunan lewat garis dinding atau pondasi. Tindakan injection berikutnya adalah berkaitan dengan elemen bangunan yang terbuat dari unsur kayu, yang pada waktu pembangunan tidak disemprot cairan anti rayap. Kusen-kusen kayu yang sudah difinishing dilubangi dengan mata bor di bagian pinggir yang menempel dengan dinding, dan lobangnya di-isi dengan cairan anti rayap.

Tindakan terakhir dari tindakan kuratif adalah biting (berasal dari kata ‘bite’ yang artinya tusukan, suap). Adalah tindakan pamungkas yang dilakukan bila koloni rayap sudah sedemikian banyaknya, dan tak bisa teratasi dengan sprying, atau injecting. Tindakan biting adalah berupa peletakan beberapa umpan di beberapa titik area sekitar luar bangunan, yang berisi satu bahan yang mengandung aroma yang sangat disenangi oleh binatang rayap. Dari aroma yang menyengat yang ada di dalam umpan, rayap akan berbondong-bondong mendatangi umpan. Padahal apa yang ada dalam umpan itu adalah racun yang mematikan bagi koloni rayap. Tentu, bila koloni rayap yang ada di area bangunan banyak yang terperangkap di dalam umpan, umpan mesti sering-sering dibersihkan dari koloni rayap yang terperangkap dan diganti dengan bahan umpan baru, dengan aroma yang baru.

2 Comments


Leave a Reply