25 November, 2008

Muhipro dan Partner Kontributor

Di tulisan-tulisan mendatang, saya mendapat seorang partner yang merupakan Wakil Dekan dan Dosen Senior di sebuah perguruan tinggi di Malaysia. Ini menjadi kegembiraan sekaligus kehormatan bagi saya, mengingat partner kontributor saya ini adalah seorang yang benar-benar konsen dalam dunia Arsitektur, khususnya dalam bidang pendidikan dan riset-konservasi. Saya berpartner dengan Pak Nangkula Utaberta ini karena dipertemukan dalam sebuah tema diskusi yang sama-sama menjadi minat kami berdua yaitu, Arsitektur Islam dan Rumah Islami. Memang kami merasakan, masih cukup sedikit yang menaruh perhatian dan minat pada tema ini. Oleh karena itu, lewat partnership ini, kami berdua mencoba untuk lebih dalam lagi menggali tema ini. Saya akan terus melanjutkan seri tulisan ‘Arsitektur Islam Seperti Apa?’, sementara Pak Nangkula akan menampilkan berbagai artikel-artikel tulisannya yang telah tersebar dalam media cetak, dan jurnal paper.

Berikut ini adalah sedikit informasi mengenai partner baru saya dalam blog ini:
nangkula1Nangkula Utaberta, saat ini adalah Wakil Dekan sekaligus Dosen Senior di School of Architecture and Design, Legenda Education Group (2007-2008). Sebelum bergabung dengan universitas ini Nangkula adalah Dosen di Jurusan Arsitektur FTUI (2006-2007) dan Dosen Paruh Waktu di Jabatan Seni Bina Universiti Teknologi Malaysia (2003-2007). Selain mengajar Nangkula juga aktif dalam berbagai kegiatan riset yakni sebagai Research Officer di Pusat Kajian Alam Bina Dunia Melayu/ KALAM, UTM (2003-2007), Researcher di Centre for Indonesia Reform (CIR) dan guest researcher di Pusat Studi Arsitektur Islam (PSAI), Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Nangkula Utaberta memperoleh Sarjana Teknik Arsitektur dari Universitas Indonesia (2003) dan Master of Architecture (M.Arch) dari Universiti Teknologi Malaysia (2004) dan Saat ini ia dalam proses akhir penyelesaian S-3 (PhD) dari Universitas yang sama-UTM. Sebagai arsitek ia terlibat dalam berbagai proyek di Indonesia dan Malaysia meliputi perumahan, bangunan publik, interior, lansekap dan konservasi serta urban desain. Sebagai akademik, Nangkula telah menerbitkan lebih dari 30 paper di jurnal dan konferensi nasional dan internasional, 5 buku (yang ditulis bersama dengan Prof. Dr. Mohd Tajuddin) dan 3 buku yang ia tulis sendiri. Ia juga secara aktif telah menulis lebih dari 40 artikel di koran, tablod, majalah profesional dan on-line website dalam bahasa Inggris, Melayu dan Indonesia.

Email: nangkula@legendagroup.edu.my

22 November, 2008

Home Version 2.0.1

Ide mengenai Home version 2.0 diilhami oleh perkembangan web yang sedang populer saat ini, yaitu Web 2.0. Web 2.0 mengindikasikan sebuah perkembangan web yang lebih mencengangkan dari model web sebelumnya. Web 2.0 memungkinkan pengelola dan pembaca web menikmati interaksi yang lebih akrab, layanan gambar slide show, suguhan multimedia yang animatif, dan audio streaming dengan kualitas suara yang jernih. Semuanya updatable, dan menjadikan sebuah web sebagaimana layaknya portal hiburan dan informasi yang senantiasa berkembang. Kita juga bisa melakukan personalisasi dan kostumasi web dengan fasilitas theme/ template auto changer, font size chooser, dan header slide show, tanpa kita harus pusing memikirkan scripting web programming yang memusingkan. Di era Web 2.0 juga berkembang situs jejaring sosial (social networking) yang memungkinkan kita terjalin dalam komunikasi pertemanan online yang luas dan tak terbatas.

digital-house
Lalu bagaimana halnya dengan Home version 2.0?

Selama ini rumah atau bangunan sudah juga berkembang secara pesat mengikuti perkembangan teknologi, utamanya dalam hal bahan bangunan. Ada rangka baja ringan, semen instan, struktur pre stressed dan rangka space frame. Tapi perkembangan-perkembangan tadi belum sepenuhnya menyentuh pada tataran sistem dan kinerja rumah secara keseluruhan. Mungkin karena ini berkaitan dengan budaya, dan infra struktur yang mendukung. Di Indonesia, kedua hal ini menjadi hal yang sangat krusial. Kita pernah mendengar tentang konsep ‘Rumah Digital’, rumah yang dilengkapi oleh sistem digital pada semua komponen bangunannya, mulai dari pintu masuk, sistem penerangan, dan home appliances. Tapi rumah ini membutuhkan dana yang cukup besar dalam pengaplikasiannya. Daya listrik yang dibutuhkan tidak kecil, dan sumber daya listrik mesti terpenuhi 24 jam penuh. Mengandalkan listrik aliran PLN tidak bisa, karena sering kejadian mati lampu. Daya listrik dari generator mesti disiapkan.

Home version 2.0 merupakan ide penyempurnaan dari sistem perencanaan dan maintenance rumah sistem konvensional yang sudah ada. Home version 2.0 sepenuhnya memanfaatkan berbagai macam kecanggihan teknologi yang selama ini berkembang terus. Unsur-unsurnya meliputi:
- sistem perencanaan komprehensif dengan memanfaatkan teknik simulasi, dan direktori desain.
- sistem utilitas dengan perancangan terpadu dengan fasilitas kemudahan plug and play, dan slot ekspansi.
- Modul-modul bangunan dengan sistem movable dan easy adjusting.
- Personalisasi dan kustomasi ruangan dengan sistem ‘ambience auto changer’
- Personalisasi dan kustomasi model rumah dengan teknologi ‘house face off’
- Perangkat elektrikal dan elektronik yang wireless atau nirkabel.
- Keamanan rumah dengan sistem digital dan control online.
- Penggunaan sumber energi alternatif sebagai backup atau pengganti sumber energi yang sudah ada, seperti solar cell dan battery energy saving.
- Rumah yang sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip fisika bangunan, sehingga dapat memaksimalkan pencahayaan dan sirkulasi alami, dan hemat energi.

Uraian akan unsur-unsur Home Version 2.0 ini akan dibahas pada tulisan selanjutnya. (bersambung)

13 November, 2008

Toko Material ‘Pesan Sponsor’

Bagi yang sedang, dan telah melakukan pekerjaan membangun atau renovasi rumah pasti berhubungan dengan toko yang satu ini: toko material! Layaknya seorang pengguna ponsel prabayar, kemudian ketagihan sms atau telpon-telponan, terus pulsa habis melulu, maka yang disambangi adalah kios voucher. Begitu juga dengan orang yang sedang membangun atau renovasi rumah. Hampir tiap hari, entah satu, dua apa tiga, pasti ada yang dibeli di toko material. Untuk urusan material yang cukup banyak jumlahnya, maka perlu dilakukan survey dan penelitian terhadap berbagai toko material bangunan terlebih dahulu. Dasar surveynya sudah pasti yang nomor satu adalah masalah harga. Dimana toko material bangunan yang harganya termurah di antara yang lain, itu yang kita tuju. Dasar pertimbangan berikutnya adalah berkaitan dengan kualitas barang yang dijual, dan pelayanan yang diberikan oleh toko material tersebut.

tokomaterial
Demi dasar-dasar pertimbangan tadi, kita kadang bela-belain bolak mandir kesana kemari. Panas terik matahari tak peduli. Keringat yang mengucur deras tak menyurutkan semangat. Dan bila kita sudah ketemu apa yang kita cari, rasanya seneng bukan kepalang. Tapi kalo kita sudah keburu membeli bahan bangunan bangunan di toko A, kemudian tau kalo ada toko material lain (semisal toko B), jual bahan bangunan itu jauh lebih murah, maka kecewanya minta ampun kita. Ini yang orang sering bilang; suka duka dalam membangun atau renovasi rumah, yang kita tangani sendiri pembelian bahan bangunannya. Suka, karena kita bisa memilih-milih sendiri bahan bangunan yang terhampar di berbagai toko material bangunan. Kita juga bisa mendapatkan harga yang miring bila rajin-rajin ‘menjelajah’. Pengetahuan kita mengenai bahan bangunan jadi bertambah, dan secara tidak langsung kita jadi hafal sebagian harga-harga bahan bangunan. Terakhir, yang juga suka orang bilang: kepuasan tersendiri!

Dukanya, bila ternyata kita terlanjur mendapatkan bahan bangunan yang harganya lebih mahal dari toko-toko material bangunan yang lain. Kecewa, kesel, dan gondok rasanya. Padahal kalo dihitung-hitung lagi, paling terpautnya cuma beberapa ribu saja. Yang terpautnya sampai ratusan ribu mungkin bisa stress berat. Duka yang berikutnya adalah yang akan jadi pembicaraan kita kali ini: kualitas bahan bangunan tidak seperti yang dijanjikan!

Mengapa dalam membeli material bahan bangunan sendiri kita kadang terjerumus membeli yang kualitasnya ‘abal-abal’?
Pertama tentu karena pengetahuan kita tentang material bahan bangunan belum mencukupi, sehingga terjadi sebab yang kedua, yaitu kita terlalu percaya dengan apa yang dikatakan oleh penjual atau pemilik toko material bahan bangunan. Kita suka lupa, si pemilik toko material bahan bangunan ‘kadang’ tidak jauh beda dengan ‘tukang jual obat’ yang sering kita temui di pasar-pasar, atau pusat keramaian. Bagaimanapun, barang-barang yang dia jual, mesti laku dan laris manis. Dan untuk itu, so pasti dia akan mengatakan tentang hal yang baik-baik mengenai barang dagangannya, bahkan kalo perlu dengan penjelasan yang agak bombastis sedikit. (pernah denger omongan: percaya deh, kalo kagak kebukti, iris dah kuping gw!) *omongan bombastis yang mantabb* :)

Padahal di beberapa toko material bahan bangunan yang kita lihat, barang-barang yang dijual sangat tergantung dengan sponsor (supplier) yang mensupply toko itu. Apabila kita melihat ada merk material bangunan A yang plang-nya terpasang di toko material bahan bangunan, maka merk itulah yang jadi ‘jagoan’ jualannya si pemilik toko. Karena bila laris manis, si pemilik toko akan mendapatkan semacam bonus dari si ‘merk sponsor’ tadi.

Jadi, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan dalam rangka ‘belanja sendiri’ material bahan bangunan untuk membangun atau renovasi rumah kita, ada baiknya kita:
- Bertanya sana-sini dengan orang-orang yang sebelumnya sudah membangun atau renovasi rumah. Mereka pasti punya beberapa pengalaman tentang bahan bangunan yang mereka pakai.
- Bertanya pada tukang, atau kuli bangunan yang kita percaya keahlian dan ilmu-nya di dunia bangunan. Sekian tahun lamanya di dunia bangunan, mereka tentu sudah merasakan menggunakan berbagai macam merek material bahan bangunan.
- Berkonsultasi dengan insinyur sipil, arsitek, atau pelaksana bangunan yang anda kenal. Mereka insya Allah punya pengetahuan yang cukup tentang bahan bangunan yang berkualitas untuk rumah anda.

Nah, selamat berbelanja!

7 November, 2008

Kecil-kecil Cabe Rawit

Kita tidak sedang membicarakan tentang sambal, lalapan, atau sejenisnya. Ini tentang binatang yang bodinya kecil mungil tapi bila sudah beraksi bisa merepotkan dan bikin berabe. Ya persis seperti pepatah yang jadi tulisan ini: kecil-kecil cabe rawit!

Binatang itu terdiri susunan 5 kata: r-a-y-a-p. Karena bodinya yang kecil mungil bahkan nyaris gak keliatan, doi sering kita remehkan. Padahal setidaknya ada dua perusahaan dari luar negeri yang beroperasi di Indonesia yang khusus membasmi binatang yang satu ini. Mengapa binatang ini tidak boleh diremehkan dan mesti dibasmi sampai ke anak cucunya? Kalo kita melihat hasil perbuatan binatang rayap, dan apa dampak yang ditimbulkannya, kita bakal mafhum. Kusen di rumah yang terbuat dari kayu solid kamper samarinda luluh lantak gara-gara gigitannya. Belum lagi rangka plafon yang habis digerogotinya, sehingga membuat plafon rumah nyaris ambruk. Dan itu, lemari buku yang beberapa bulan lalu baru jadi, papan bagian belakangnya sudah habis jadi makanannya.

rayap
Agar rayap tidak mampir ke rumah kita, ada taktik dan strategi yang mesti diterapkan. Teknik dan strategi ini paling ampuh diterapkan sewaktu kita membangun rumah, dimana segala sesuatunya bisa kita persiapkan dari awal dan sejak dini. Satu hal yang menjadi catatan penting tentang binatang rayap adalah obsesi dan makanan utamanya adalah kayu! Ibarat seorang penggila materi dunia, ia akan terobsesi untuk memburu makanan utamanya itu. Maka, strategi pertama yang kita terapkan adalah menjauhkan unsur-unsur kayu dalam rumah dan lingkungan kita. Potongan-potongan kayu bekas bekisting, atau pekerjaan kayu lainnya yang tercecer pada waktu proses pembangunan rumah, jangan dibiarkan begitu saja. Kalo bisa dibersihkan sampai sebersih-bersihnya.

Pembersihan lahan dari unsur-unsur kayu bisa disebut sebagai tindakan preventif terhadap rayap. Tindakan preventif berikutnya dilakukan pada waktu pekerjaan galian pondasi. Lubang galian untuk struktur pondasi disiram dengan cairan anti rayap. Dosisnya umumnya sekitar 2 liter per-m2. Ini karena rayap biasanya naik ke atas bangunan lewat dinding yang berdiri di atas garis pondasi. Tindakan ini dikenal dengan istilah ’sprying’. Setelah pekerjaan pondasi selesai, urugan tanah di dalam area pondasi juga disiram dengan cairan anti rayap. Dan terakhir, area lahan di sekeliling pondasi bagian luar juga disiram dengan cairan anti rayap.
Lalu bagaimana dengan elemen rumah yang memang terbuat dari unsur Kayu (seperti kusen, pintu jendela, dan rangka kuda-kuda atap)?
Elemen rumah dari kayu itu kita lapisi atau lumuri dengan cairan pengawet kayu, atau kita kenal dengan cairan anti rayap. Idealnya, bahan-bahan kayu tadi ketika masih berupa batangan (belum dibentuk jadi kusen, pintu, dan sebagainya) direndam selama beberapa jam dengan cairan anti rayap. Bila sudah terlanjur terbentuk, elemen bangunan dari bahan kayu tadi disemprot cairan anti rayap dengan alat semprot.

Sampai di sini, tindakan preventif terhadap serangan rayap sudah selesai. Dengan tindakan preventif tadi, rumah akan aman dari serangan rayap selama kurang lebih empat sampai lima tahun lamanya. Setelah jangka waktu itu habis, perlu dilakukan upaya maintenance anti rayap dengan sprying (penyiraman) kembali area di sekeliling bangunan.

Akan halnya dengan bangunan atau rumah yang sudah terlanjur terkena serangan rayap, karena tidak diantisipasi pada saat pembangunannya, maka yang dilakukan adalah upaya-upaya penanggulangan (kuratif). Setidaknya ada tiga tindakan yang umum dilakukan untuk memperbaiki rumah atau bangunan yang sudah terlanjur terkena serangan rayap, baik masih dalam skala ringan atau skala berat. Tiga tindakan kuratif itu adalah sprying, injection, dan biting.

Sprying dalam tindakan kuratif hampir sama dengan sprying dalam tindakan preventif. Hanya saja sprying dalam tindakan kuratif hanya bisa dilakukan pada unsur-unsur kayu dari elemen bangunan yang belum difinishing, dan tanah sekitar area bangunan yang tidak di-floor.
Jenis tindakan yang sering dilakukan dalam tindakan kuratif adalah injection (atau penyuntikan cairan anti rayap ke bagian bangunan yang menjadi tempat menjalarnya koloni rayap). Untuk tindakan injection standar adalah dengan membuat lubang dengan jarak 30 sampai 40 centi sepanjang lantai di kedua sisi garis dinding dengan menggunakan mata bor hingga mencapai level urugan tanah di bawah bahan penutup lantai (keramik, floor semen, dll). Sama seperti sprying yang dilakukan di garis galian pondasi, injection di sepanjang garis dinding ini bertujuan untuk memutus dan menghambat jalur koloni rayap, yang biasanya memang masuk ke dalam rumah atau bangunan lewat garis dinding atau pondasi. Tindakan injection berikutnya adalah berkaitan dengan elemen bangunan yang terbuat dari unsur kayu, yang pada waktu pembangunan tidak disemprot cairan anti rayap. Kusen-kusen kayu yang sudah difinishing dilubangi dengan mata bor di bagian pinggir yang menempel dengan dinding, dan lobangnya di-isi dengan cairan anti rayap.

Tindakan terakhir dari tindakan kuratif adalah biting (berasal dari kata ‘bite’ yang artinya tusukan, suap). Adalah tindakan pamungkas yang dilakukan bila koloni rayap sudah sedemikian banyaknya, dan tak bisa teratasi dengan sprying, atau injecting. Tindakan biting adalah berupa peletakan beberapa umpan di beberapa titik area sekitar luar bangunan, yang berisi satu bahan yang mengandung aroma yang sangat disenangi oleh binatang rayap. Dari aroma yang menyengat yang ada di dalam umpan, rayap akan berbondong-bondong mendatangi umpan. Padahal apa yang ada dalam umpan itu adalah racun yang mematikan bagi koloni rayap. Tentu, bila koloni rayap yang ada di area bangunan banyak yang terperangkap di dalam umpan, umpan mesti sering-sering dibersihkan dari koloni rayap yang terperangkap dan diganti dengan bahan umpan baru, dengan aroma yang baru.